KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DAN BERPUASA☺️
1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ (مَرَّتَيْنِ)، وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، اَلصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا."
“Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang
di antara kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan tidak juga
berlaku bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, maka hendaklah
dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’ (sebanyak dua kali). Demi
Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih
harum di sisi Allah Ta’ala daripada aroma minyak kesturi, di mana dia meninggalkan
makanan, minuman, dan nafsu syahwatnya karena Aku (Allah). Puasa itu untuk-Ku
dan Aku akan memberikan pahala karenanya dan satu kebaikan itu dibalas dengan
sepuluh kali lipatnya.” [1]
2. Hadits yang diriwayatkan oleh Hudzaifah Radhiyallahu anhu,
ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
"فِتْنَةُ
الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ."
“Kesalahan seseorang terhadap keluarga, harta dan tetangganya
akan dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah.” [2]
3. Hadits yang diriwayatkan dari Sahl Radhiyallahu anhu, ia
berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"إِنَّ
فِي الْجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقُ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ."
‘Sesungguhnya di Surga itu terdapat satu pintu yang diberi
nama ar-Rayyan. Dari pintu itu orang-orang yang berpuasa akan masuk pada hari
Kiamat kelak. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka.
Ditanyakan, ‘Mana orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka pun berdiri. Tidak
ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Jika mereka sudah
masuk, maka pintu itu akan ditutup sehingga tidak ada lagi seorang pun yang
masuk melalui pintu tersebut.’” [3]
4. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu
anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"إِذَا
جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ."
‘Jika Ramadhan tiba, maka pintu-pintu Surga dibuka.’” [4]
5. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu
anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"إِذَا
دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْنُ."
‘Jika bulan Ramadhan telah masuk, maka pintu-pintu langit akan
dibuka dan pintu-pintu Jahannam akan ditutup dan syaitan-syaitan pun
dibelenggu.’”[5]
6. Hadits yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
"مَنْ
قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ."
‘Barangsiapa bangun pada malam Lailatul Qadar dengan penuh
keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas
dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh
keimanan dan mengharapkan pahala maka akan diberikan ampunan kepadanya atas
dosanya yang telah lalu.’” [6]
BEBERAPA RAHASIA PUASA
Puasa merupakan sarana paling tangguh untuk membantu memerangi
hawa nafsu serta menekan nafsu syahwat sekaligus sebagai sarana pensucian jiwa
dan pemberhentiannya pada batas-batas Allah Ta’ala, di mana dia akan menahan
lisannya dari berbicara sia-sia, mencela, serta menyerang kehormatan orang
lain, berusaha menyebar ghibah (menceritakan kejelekan atau aib orang) dan
namimah (mengadu domba) ke tengah-tengah mereka, puasa juga dapat menundukkan
tipu daya, pengkhianatan, kecurangan, muslihat, serta mencegah upaya melakukan
perbuatan keji, memakan riba, menyuap dan memakan harta manusia dengan cara
yang bathil serta berbagai macam penipuan. Selain itu, puasa juga mendorong
seorang muslim untuk sesegera mungkin mengerjakan perbuatan baik, baik itu
shalat maupun zakat dengan cara yang benar serta menyalurkan kepada pihak-pihak
yang telah ditentukan oleh syari’at. Dia juga akan berusaha mengeluarkan
shadaqah serta melakukan hal-hal yang bermanfaat, berkeinginan keras untuk memperoleh
rizki yang halal dan menghindarkan diri dari perbuatan dosa dan keji.[7]
Dengan demikian, di dalam puasa itu terkandung banyak
keutamaan yang sangat agung. Selain itu juga memiliki berbagai rahasia besar
yang sebagian di antaranya telah diketahui oleh banyak orang, sedang sebagian
lainnya tidak diketahui.
Dan di antara rahasia dan manfaat puasa yang paling tampak
jelas adalah sebagai berikut:
PUASA MERUPAKAN METODE YANG MANTAP UNTUK MELAKUKAN PERUBAHAN
Di antara manfaat puasa yang agung adalah sebagai sarana
menyiapkan seorang muslim dengan kekuatan yang menjadikannya mampu untuk
melakukan perubahan pada dirinya sendiri. Dia dapat melakukan latihan melalui
puasa sehari-hari sehingga dia dapat menahan diri dari setiap hal yang dia
sukai dan cintai. Dan kepada penguasa nafsu dan syahwat, dia akan mengatakan,
“Tidak.”
Sungguh jawaban yang hebat jika berada dalam keridhaan Allah.
Jika seorang muslim mampu mengatakan hal tersebut, berarti dia telah berhasil
mewujudkan kehormatan dan kedudukan yang tinggi atas syahwat dan ketamakannya.
Sedangkan orang-orang yang tidak berpuasa adalah orang yang tidak pernah mampu
mengendalikan gejolak jiwa mereka, bahkan mereka selalu tunduk kepada syahwat
dan keinginan mereka. Mereka adalah budak-budak yang hina, bahkan lebih buruk
dari budak-budak manusia. Seorang penya’ir telah mengungkapkan:[9]
“Kalau bukan karena kesulitan, niscaya umat manusia ini
secara keseluruhan akan menjadi terhormat,
Kedermawanan semakin langka
dan keberanian berarti perang.”
PUASA SEBAGAI CARA PENGGEMBLENGAN TENTARA
Kehidupan militer dengan segala hal yang diharuskannya, baik
itu berupa kekerasan, kekasaran, ketegaran, ketundukan pada perintah, serta
kedisiplinan pada arahan-arahan komandan. Dan kita bisa dapatkan perwujudan
secara praktis pada puasa.
Yang demikian itu karena puasa merupakan sarana penggemblengan
kekuatan fisik yang mengharuskan pelakunya menempuh satu manhaj (metode)
tersendiri dalam kehidupannya, di mana tiang penyangganya berupa ketegaran,
larangan, dan bersabar atas pahit getirnya rasa lapar dan panasnya rasa haus,
kelelahan fisik dalam mengendalikan diri serta menahan hawa nafsu dan mengekang
keinginannya, seakan-akan seorang muslim yang berpuasa itu adalah seorang
tentara yang siap mendengar dan mentaati serta menjalankan perintah Rabb-nya
tanpa penolakan atau pembangkangan.
Jika seorang tentara itu tunduk dan berpegang pada perintah
serta menjalankannya di bawah pengawasan komandan, maka orang yang berpuasa
(sedang) menjalankan perintah tanpa pengawasan dari seorang pun, kecuali dari
Allah Yang Mahahidup lagi Mahaberdiri sendiri, yang tidak akan pernah lengah
dan tidur, Mahasuci Allah lagi Mahatinggi.
PUASA MEMPERKUAT KEINGINAN
Puasa dapat memperkuat keinginan, mendorong kemauan,
mengajarkan kesabaran, membantu menjernihkan fikiran, menghidupkan pemikiran,
dan mengilhami pendapat yang cerdas jika seorang yang berpuasa dapat melangkah
ke fase relaks (santai), serta melupakan berbagai rintangan yang muncul akibat
waktu luang dan terkadang keputusasaan, dan ketika seseorang memiliki keinginan
yang kuat sehingga dia mampu mengatakan kepada pelaku kemunkaran, “Ini munkar.”
Dia juga bisa menghadapi segala bentuk hal-hal negatif yang ada di masyarakat.
Sehingga dengan demikian, dia telah menjadi seorang anggota masyarakat yang
dinamis, yang akan membangun dan tidak merusak, serta melakukan perbaikan dan
tidak melakukan peng-hancuran.
Ketika suatu bangsa memiliki keinginan yang kuat dan besar,
maka dia tidak akan memperkenankan agresor atau penjajah untuk menginjakkan
kaki ke tanahnya atau ikut campur dalam menentukan perjalanan hidupnya. Dengan
kekuatan tersebut, ia juga akan mampu meraih kemenangan di medan pertempuran
melawan kebodohan, keterbelakangan, melawan nafsu syahwat, serta sanggup
menembus segala rintangan pembangunan dan kemajuan.
Syaikh ad-Dausari rahimahullah mengatakan, “Membangun
keinginan yang kuat di dalam diri bukanlah suatu hal yang mudah. Berbagai
kalangan, baik perkumpulan (organisasi) maupun kalangan militer telah berusaha
membangun keinginan yang kuat kepada masyarakat masa kini. Padahal, Islam telah
mendahului mereka dalam hal tersebut pada 14 abad yang lalu. Cukup besar
kebutuhan seorang muslim, khususnya untuk memiliki keinginan kuat dan kemauan
yang keras. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk
berjuang melawan sakit akibat rasa lapar dan haus dalam menjalankan puasa.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi seorang muslim yang
berpuasa untuk tidak melakukan hal-hal yang merusak kekuatan ini setelah
berbuka, mengucilkan atau menghinakannya sehingga pada malam harinya dia akan
merusak kuatnya keinginan yang telah dia bangun pada siang harinya.[10]
PUASA MEMBENTUK AKHLAK MULIA
Puasa merupakan tempat penggemblengan diri bagi orang yang
menjalankannya untuk membentuk akhlak mulia, akhlak ketakwaan, kebajikan,
kebaikan, kepedulian, tolong-menolong, kasih sayang, kecintaan, kesabaran, dan
akhlak mulia lainnya yang dibangun oleh puasa pada diri orang yang
menjalankannya.
No comments:
Post a Comment